Embun doa beraroma tua
tiba ke layu aminku malam ini
dulu kami pergi pulang berdua
langkah kecil tereja menjadi
kasih mungil dari bapak
senyum rona diorama senja
tiba ke pahit harapku malam ini
dulu kami bikin kue bersama
adonan biasa terasa menjadi
sayang sederhana dari bunda
sesal bumi terpasung matahari
tiba ke gerimisku malam kini
awan diam lalu terusterusan
jujur kepada kalut hujan sungsang
tentang kasihsayang takkan... Baca Selengkapnya »
Delapan puluh kurang delapan
pasang bintang
menyapa setia menatapnya
hanya senyum
sebagai timpal jawaban
jawaban seiring guntur
temani tebaran
sewangi hujan melati
melati merah
dari awan yang terlilit
di dada langit
langit biru
sebiru panggilan
kubah di benaknya
mata dunia lagi gerhana
ia ngerti sekali
maka sejak kerikilnya
merudal dari ujung-ujung jemari
degup jantungnya sengaja
ia kirimkan berkali-kali
mungkin... Baca Selengkapnya »
Tanpa hadirmu, kurebahkan diri di tengah tamu-tamu
yang duduk kelilingi tubuhku.
malam ini aku akan menjadi jamuan buat mereka
Doa pembuka terapal
dari mulut ketua hingga rombongan mengikuti,
lalu susul doa-doa lain bergema dalam ruang tamu
Sunyi, senyap hingga kutertidur, pasrah
pada ingin mereka.
Sudah setengah jam, entah berada dimana aku?
kulihat sang ketua iris nadi tanganku.Darah mengucur
ramai-ramai para tamu nampung lalu... Baca Selengkapnya »
Hari ini, hari yang paling sakral.
di dekap cahaya mungil
api itu melahap jiwaku.
Yang berjibaku dengan bunga
Senja nista awang awang
melantunkan suara sungai kecil
yang terkepung dusta
Dosa
..
Dosa telah kuperbuat
Doa ratusan pemuja
menghapus tanda tanda
yang melekat di kulit ini
aku melebur pada pekat rembulan
aku melebur pada percik bintang
aku melebur dalam diam, tiada hasrat
dengan terjaga
mataku bisu. Baca Selengkapnya »
Sebelum Kau pergi
Pandang Mekar bunga
di halaman. Yang berseri
sejak cahayamu memekarkan
Sebelum terbenam, baiknya kusematkan
kembang di telinga.sejenak menahan rembulan
pulangkanmu. dan bibir bisikkan kata pisah
kuharus pulangkan setiap cerita pada langit jingga
Setelah hilangmu, aku serupa ranting kering
lukai wajah rembulan. tak lelah kucoret wajahnya
hingga kuyakin kau tiada dan langit pun lepas bayangmu.
dan sepertinya... Baca Selengkapnya »
Salahkah aku buang bensin di jalan
sulutkan geretan, membakar kota,
dan orang-orang bergelimpangan,
sedang kamu menari-nari di atas reruntuhan
oh aku takjub melihatmu dan bertepuktangan
atas tarianmu
Salahkah membiarkanmu terbakar
sedang aku masih menghitung harga bensin
yang lenyap. dan kau masih juga menari-nari
di jalanan. lalu panggil namaku dalam lirikmu
ah
rupanya kau kesurupan seperti penari topeng
dan berlari-lari membakar... Baca Selengkapnya »